Lobster Mutiara

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menjelaskan bayi lobster yang gagal diselundupkan dihargai Rp 50 ribu-100 ribu per ekor oleh penampung di negara-negara obyek penyelundupan.

Hasil gambar untuk Lobster mutiara adalah

Harga tersebut diakui tidak sesuai terkecuali lobster tersebut udah berukuran sebesar 1 kilogram (kg). Penyelundupan bayi lobster ini sejatinya dipelihara lebih-lebih dahulu sehabis besar dapat dijual kembali.

“Saya mengucapkan selamat kepada Bea Cukai, Karantina, dan Bareskrim yang udah berhasil menyelamatkan 71 ribu ekor benur atau juvenile lobster,” kata Susi di aula gedung B KPU Bea Cukai Tipe C Soekarno Hatta, Jumat (23/2/2018).

Menurut Susi potensi kerugian negara akibat penyelundupan 71.982 ekor bayi lobster yang berhasil digagalkan pemerintah nilainya lebih berasal dari Rp 14,4 miliar.

“Kalau kita hitung juvenile itu satu ekornya dibeli di Vietnam cuma Rp 50.000 atau Rp 100.000. Tapi terkecuali dia udah besar jadi satu kilogram atau 1/2 kilo saja, harga lobster mutiara itu saat ini udah Rp 2 juta atau minimum Rp 1,5 juta per kg,” ujar dia.

Jika seluruh bayi lobster itu dibesarkan lebih-lebih dahulu hingga ukuran 1 kg atau sepanjang enam hingga delapan bulan maka harganya melonjak tinggi.

“Jadi terkecuali dikalikan umpama 70.000 itu mati separuh di alam, berarti 35.000 ekor kali 1/2 kilogram itu udah 17.500 kg, berarti 17,5 ton itu terkecuali dikali US$ 100 per 1kg, berarti nilainya kurang lebih Rp 175 miliar,” tambah dia.

Nilai yang besar tersebut selayaknya jadi penghasilan para nelayan nasional. Kejadian ini juga karena sejak tahun 2000-an dimulainya usaha benih lobster.

Aturan tersebut pada pada akhirnya diberhentikan bersama dengan menerbitkan belei perihal pelarangan bayi lobster juga dalam tipe hasil laut yang dilarang penangkapannya berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56 Tahun 2016 perihal Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster (Panulirus spp), Kepiting (Scylla spp), dan Rajungan (Portinus Pelagicus spp) berasal dari wilayan Republik Indonesia.

“Karena produk lobster Indonesia yang nampak negeri turun berasal dari ribuan ton cuma jadi 300 ton saja untuk lobster besarnya,” tutup dia.

Hasil laut di Pulau Bawean lumayan beragam, menjadi berasal dari ikan hingga lobster. Namun, komoditas yang jadi andalan nelayan yaitu lobster tipe mutiara dan bambu.

“Ada ikan kerapu, ikan tongkol, banyak macam. Tapi lobster jadi pilihan nelayan disini, karena harganya tinggi, per kilogram Rp 300 ribu,” kata Rusli (38), seorang nelayan asal Desa Sungai Laut, Kecamatan Sangkapura, Bawean, Kabupaten Gresik, Selasa (18/10/2016).

Ia menerangkan, tiap-tiap hari nelayan bisa menangkap lobster biasanya per hari 10 ekor. Berat lobster kurang lebih 1 Kg per ekor. Lobster tersebut didapat berasal dari keramba yang dibuat di kurang lebih 3 hingga 10 mil berasal dari bibir pantai Pulau Bawean.

“Setiap bisa lobster dikumpulkan hingga banyak, konsisten dijual,” terangnya sambil menambahkan, ada customer yang berkunjung ke nelayan untuk belanja lobster.

Mufid Supriyanto, Kasi Operasional Pelabuhan UPT Pelabuhan dan Konservasi Sumberdaya Perikanan Kelautan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur mengatakan, lobster jadi andalan tangkapan nelayan di Bawean.

“Disini ada dua tipe lobster yaitu Mutiara dan Bambu. Kalau yang tipe Mutiara agak galak. Di Bawean lumayan bagus, karena lautnya tetap bersih belum tercemar kimiawi,” kata Mufid sambil menambahkan, lobster Bawean ini jadi komoditi ekspor ke obyek Hongkong, Taiwan, Singapura.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf disela menghadiri acara Selamatan Laut di Desa Sungai Teluk, Kecamatan Sangkapura, Bawean berpesan kepada penduduk Bawean, untuk selamanya menjaga laut.

“Laut tempat kita mencari nafkah. Ada ikan dan tak semata-mata ikan, ada nutrisinya. Itu mesti kita jaga, mesti kita memelihara bersama dengan baik,” terangnya.

Wagub yang akrab disapa Gus Ipul itu menghendaki nelayan tidak jalankan penangkapan yang dilarang.

“Dilarang jalankan sesuatu yang berlebihan dan mengakibatkan rusaknya alam, rusaknya laut karena ulah manusia,” tuturnya.

“Alam mesti kita jaga. Laut kita memelihara supaya jadi berkah dan hasilnya melimpah untuk masyarakat,” tandasnya.

Lobster Mutiara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *